Kamis, 25 Mei 2017

BIODATA DAN ARTIKEL



BIODATA

Nama               : Amalia MW
NIM                : 2015.01.126
Prodi               : IV PAI B
No. HP            : 0857 8827 9977
Alamat             : Kayuagung, kab. OKI
TTL                 : Kayuagung, 03 Juni 1996
Anak               : ke 3 dari 6 bersaudara
Asal sekolah    : -SD 15 celikah, kayuagung
  -Mts. Al-Ittifaqiah, indralaya
  -SMA IT bina insani, kayuagung


Kesan Selama di STITQI :
Mendapatkan berbagai macam ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut kepada orang-orang membutuhkan dan bertutur kata yang baik

Harapan STITQI ke Depan :
Semoga STITQI ke depan menjadi yang lebih baik, populer, dan menjadi salah satu universitas yang terbaik yang ada di Indonesia ini.

Opini Tentang Maraknya “Hoax” di Dunia Maya
Semakin maraknya penggunaan jejaring sosial dan internet, maka semakin meningkat pula upaya kasus penipuan. Mulai dari minta transfer uang hingga memungkinkan para pelaku kejahatan untuk mendapatkan akses berpura-pura menjadi teman kita di Facebook. Saatnya kewaspadaan ditingkatkan dengan tidak mudah percaya begitu saja apa dengan apa yang diunggah ke dunia maya.
Psikolog dari University of Melbourne, Australia, Brent Coker yang juga pakar perilaku di dunia maya mengatakan ada beberapa alasan mengapa berbagi dan menyukai postingan di Facebook. 
"Mengapa bisa menyebar dan menjalar, itu karena membangkitkan emosi yang kuat dan menciptakan sesuatu yang kita sebut gairah kognitif yang memotivasi orang untukbertindak," kata Dr Coker. "Dengan mendapatkan 'Likes' atau ketika postingan kita di-share, ada ganjaran psikologis yang besar."
Dr Coker mengatakan saat sebuah pesan dikirimkan dengan mengatasnamakan sebuah perusahaan, biasanya orang-orang sudah bisa bersikap skeptis. Tapi saat diunggah ke halaman Facebook, kemungkinan besar orang-orang malah menjadi percaya.
Diungkapkan oleh Kesubdit IT dan Cyber Crime Bareskrim Polri Kombes Pol Himawan Bayu Aji, masyarakat harus meneliti kebenaran berita sebelum mencernanya.
"Akhir-akhir ini memang banyak di media sosial, hal-hal yang berkaitan dengan berita yang perlu diteliti betul akurasi kebenarannya, kita sebut dengan hoax," kata Himawan saat ditemui usai menjadi pembicara di acara Indonesia Internet Expo and Summit yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di Jakarta, Kamis (24/11/2016).
Himawan mengatakan, sejauh ini Subdit Cyber Crime mengetahui ada beberapa cara penyebaran berita hoax di internet.
"Pertama kita sebut sebagai buzzerBuzzer itu awalnya adalah kegiatan positif untuk mempublikasikan dan memberitakan hal-hal positif tentang sebuah kegiatan. Namun selama perkembangannya banyak digunakan untuk menyebarkan hal-hal negatif, bahkan berita hoax," kata Himawan.
Ia menambahkan, dalam menyebarkan berita hoax, ada tim khusus yang memiliki kemampuan grafis. Sehingga bisa memberikan gambar atau kata-kata yang tidak sesuai dengan kebenarannya. Kemudian, berita hoax juga terlihat dari ketidaksesuaian antara judul dan isi.
Penyebaran berita hoax juga dilakukan oleh tim yang melakukan rayuan-rayuan dengan membuat akun-akun pro-kontra terhadap sesuatu. Menurut Himawan, biasanya si pembuat akun adalah orang yang sama namun memiliki beberapa akun.
"Pemilik akun itu sengaja membuat akun yang sifatnya pro dan ada yang kontra. Jadi sengaja membuat situasi jadi pro kontra dengan memancing warganet bergabung dalam diskusi itu," tutur Himawan.
Apapun motivasinya, hoax yang tersebar di internet sepertinya tidak akan menghilang begitu saja.
Jika kita perhatikan pesan-pesan berjenis kebohongan ini muncul di berbagai tempat secara bersamaan, ini menjadi tanda kalau masih akan ada.
"Kecepatan untuk membagi hoax ini punya peranan besar soal ini," jelas Dr Coker. Menurutnya, semakin cepat hoax itu menyebar, maka akan semakin besar kemungkinannya tetap berad di dunia maya, dan kadang meningkat jadi populer.
Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi menekankan masyarakat juga jangan ikut meramaikan informasi hoax apalagi ikut menyebarkannya
"Masyarakat harus melakukan check and recheck atas suatu informasi. Selain itu, pemerintah harus gencar melakukan literasi media maya kepada masyarakat," kata Sigit saat berbincang dengan Okezone, Rabu (11/1/2017).
Kata Sigit, maraknya informasi hoax karena para pemimpin lembaga tidak mampu mengantisipasi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Oleh sebab itu, harus segera dilaksanakan literasi media yang mendalam.
"Kegagapan para pemimpin lembaga ditunjukkan dengan tidak segera mengambil tindakan dan menjadi penonton atas perang hoax ini," tutupnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar